Mantan wartawan The Guardian, Said Kamali Dehghan, disebut mengakui bahwa dirinya mengarang sebuah tulisan yang disajikan sebagai wawancara eksklusif dengan perempuan Iran, Sakineh Ashtiani. Artikel tersebut diterbitkan The Guardian pada 6 Agustus 2010 di tengah sorotan internasional mengenai kabar ancaman hukuman rajam terhadap Ashtiani.
Mengutip laporan Albalad.co yang terbit pada 29 Agustus 2026, Dehghan menyatakan wawancara yang menjadi dasar tulisan tersebut sebenarnya tidak pernah terjadi.
“Wawancara tersebut tidak pernah terjadi. Saya mengarang seluruh tulisan itu,” kata Dehghan sebagaimana dikutip Albalad.co.
Mengaku Bertanggung Jawab
Dehghan disebut secara terbuka menyatakan akan bertanggung jawab atas tulisan tersebut. Ia juga meminta maaf kepada pembaca dan The Guardian serta memohon ampun kepada Tuhan.
Pengakuan itu menjadi serius karena tulisan tersebut bukan sekadar opini atau analisis, melainkan disebut disajikan kepada publik sebagai sebuah wawancara eksklusif.
Menurut laporan Albalad.co, Dehghan juga menyadari bahwa informasi yang ditulisnya telah menyebar luas dan berada di luar kendalinya.
“Saya membuat pengakuan ini atas keinginan saya,” tuturnya sebagaimana dikutip sumber tersebut.
Ia mengatakan tidak dapat terus diam ketika, menurut pandangannya, banyak cerita menyesatkan dan palsu mengenai Iran terus diterbitkan.
Artikel Disebut Masih Tayang
Albalad.co melaporkan bahwa artikel The Guardian tersebut masih belum diturunkan meskipun Dehghan telah menyatakan bahwa wawancara yang disajikan di dalamnya tidak pernah terjadi.
Situasi tersebut menempatkan persoalan ini lebih jauh dari sekadar kesalahan penulisan. Jika sebuah wawancara yang tidak pernah dilakukan benar-benar disajikan sebagai wawancara eksklusif, maka persoalannya menyentuh prinsip paling mendasar dalam jurnalisme: verifikasi, akurasi, transparansi, dan kepercayaan publik.
Pengakuan seorang penulis juga tidak serta-merta menghapus dampak informasi yang telah beredar selama bertahun-tahun. Informasi yang telah dikutip, dibagikan, atau dijadikan rujukan dapat terus hidup jauh setelah publikasi pertamanya.
Karena itu, koreksi dan transparansi menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban media ketika muncul persoalan serius terhadap keakuratan sebuah laporan.
Comments
0